Iklan

 


Iklan

Gelap dan Terang dalam Muscab DPC Peradi Tangerang

Selasa, 11 Januari 2022, 5:56 AM WIB Last Updated 2022-01-11T23:00:22Z

Bakal Calon Ketua DPC PERADI Kota Tangerang Dyah Wuri Sulistyati, SH. Foto : Ist.

Oleh Ahmad Kailani SH. MH. M.Ip.*)


Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Peradi Tangerang dihelat tanggal 29 Januari 2022.  Hari ini tanggal 11 Januari 2022. Kalau ditulis gini; 11-1-2022. Angka unik kan? Coba kalau dijumlahkan jadi kiu-kiu. Jadi angka “9”. Angka keberuntungan. Yang biasa main ceki-ceki tahu itu. Angka 9 adalah angka tertinggi. “angka sempurna”. Jadi tulisan ini dibuat berterapan dengan hari dan angka keberuntungan. 

 
Dan jika pada hari ini anda membaca tulisan ini, berarti perhelatan Muscab tinggal 18 hari lagi. Maka jika dijumlahkan, 1+8 maka ketemu lagi angka “9”. Unik kan? Makanya entah kenapa kok saya tiba-tiba ingin menulis tentang Muscab. Tim Sukses (Timses) Dyah Wuri Sulistyati SH. juga dimotori oleh “9” orang. Konon jumlah orang yang mendaftar sebagai Timses, akan terus bertambah menjadi “99” orang. Angka 9 memang angka keberuntungan. Jika teman-teman hendak beroleh keberuntungan, yuuk  bergabung sebagai Timses “Dyah Wuri Sulistyati SH.”. 


Lalu, Muscab yang kurang dari 3 minggu ini,  sebagai anggota DPC Peradi Tangerang apa yang anda rasakan? Apa yang anda harapkan? Bahagia, rame, semarak, gegap gempita, heboh?  Jika anda jawab tak ada. Anda sekubu dan senasib  dengan saya. Pesta saja sepi, apalagi tidak ada pesta. Padahal anak kecil saja paling bahagia kalau ada pesta. Apakah lebaran, natalan atau ulang tahun. Baju baru. Harapan baru. Masak sih kita kalah sama anak kecil. Malu kan?


Ahmad Kaylani.

Menjelang Muscab DPC Peradi Tangerang “kehebohan” itu bak Panther. Nyaris tak ada. Nyaris tak bersuara. Tak ada umbul-umbul, tak ada baliho, tak ada apapun. Nichts!! Kata Bule Jerman. Aneh gak? Saya tidak tahu. Di mana-mana yang namanya “pesta” pasti rame. Apalagi Muscab kali ini adalah “pesta demokrasinya” para advokat. Para pengacara. Yang konon saat berbisik saja suaranya menggelegar. Apalagi saat membela klien tajir di persidangan. Ada apakah gerangan?


Apakah pesta kaum advokat Tangerang ini memang terbiasa “sunyi senyap”, gelap-gelapan” atau suka dengan “remang-remang” saya tak tahu. Jika pengacara suka dengan “remang-remang” bisa dimaklumi.  Sebab terkadang pasal “remang-remang”  memang menyenangkan. Tetapi suka dengan kegelapan dan kesunyian? Pasti ada yang aneh. Terlebih lagi pengacara  sebagai pilar keempat penegakan hukum tujuannya adalah  “agar keadilan menjadi terang”. Agar keadilan tegak  bukan sebaliknya.


Jadi kalau pengacara suka dengan kegelapan itu melawan kodrat profesi. Advokat sebagai profesi “officium Nobile”, tidak boleh berpihak pada kejahatan meski di bayar. Namun tetap tegak dijalan kebenaran (keadilan) meski langit runtuh.  Karena itu advokat selalu tidak nyaman dengan “kesunyian” dan “kegelapan”.  Sebab konon, kejahatan (zholim) sering terjadi dalam gelap dan sunyi. Kata Zholim itu identik dengan lalim (otoriter). Jadi sederhanya kegelapan adalah kejahatan. Kegelapan adalah kelaliman.

 

Demikian juga kebodohan  selalu dianalogikan dengan kegelapan (dzholim).  Masih ingat kan kata-kata Ibu R.A. Kartini yang paling mashur; “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam bahasa bahasa Al Qur’annya; “yahruju minal dzulumat ilan nuur”. Jadi kegelapan, kezaliman, kelaliman, kebodohan dan bentuk-bentuk cincai lainnya bersaudara dan berteman baik. 


Saya tidak tahu apakah sunyi dan sepinya persiapan Muscab DPC Peradi Tangerang bagian dari dominannya zona “kegelapan”. Saya tidak tahu. Karena Advokat yang taat pada profesinya sebagai  “Officium Nobile”, profesi yang mulia pasti tidak suka dengan “kegelapan”. Dan gelap tidak suka dengan terang. Sebagaimana “kegelapan tidak akan bersekutu dengan terang”. Karena terang  menunjukan sikap yang  terbuka, transparansi,  pemberani, demokratis dan berpihak pada kebenaran. Sementara Kegelapan sebaliknya.


Kini, saatnya teman-teman DPC Peradi Tangerang bersuara (speak out) agar kegelapan itu berakhir terang. Kata Iwan Fals, “Berbicaralah yang Lantang Jangan hanya diam”. Dengan bersuara lantang, sering kejahatan berhasil digagalkan. Sebab kata Bang Napi, kejahatan hadir bukan hanya karena niat, tetapi karena adanya peluang dan kesempatan”. Bersuara menjadi salah satu bentuk “peringatan dini” (early warning) dari tindak kejahatan”. 


Kapan anda bersuara? Saat di Muscab DPC Peradi Tangerang. Bersuara dengan cara ikut menjadi peserta Muscab. Pastikan nama anda tercatat dalam sejarah sebagai pendukung perubahan. Pastikan diri anda berada dalam zona terang, berpihak pada transparansi, dan berfokus pada masa depan. Masa lalu hanya untuk pelajaran bukan untuk mewujudkan “rumah masa depan”.  Salam terang dan perubahan!!
 

*) Advokat, Anggota Peradi  dan Wakil Timses “Dyah Wuri Sulistyati SH.”

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Gelap dan Terang dalam Muscab DPC Peradi Tangerang

Terkini

Topik Populer

Iklan