Iklan

 


Iklan

Selain MUI dan PKS, Tokoh Muslim New York Kecam Rencana Penamaan Jalan di Jakarta dengan Ataturk

Kamis, 21 Oktober 2021, 7:15 AM WIB Last Updated 2021-10-22T00:22:01Z

Mustafa Kemal Ataturk dikenal sebagai tokoh Turki yang sekuler. Foto : Ist

Jakarta -
Wacana penggunaan nama tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, di Wilayah Jakarta telah menuai banyak kritik. Termasuk dari Imam Besar di Islamic Center of New York, Muhammad Shamsi Ali yang merasa nama Kemal Ataturk penuh kontroversi. Untuk itu ia lebih mengusulkan nama Presiden Turki saat ini Recep Tayyip Erdoğan lebih mewakili dari nilai religius bangsa Indonesia.

"Kalau sekiranya bisa tokoh yang masih hidup, Erdogan saja. Kan nama Sheikh Ziyan UAE juga dipakai di Jakarta," ujar Shamsi Ali kepada Inilah.com, Kamis (21/10).

Menurut Shamsi Ali, nama Erdogan sejalan dengan nilai bangsa Indonesia yang religius. Dibanding Kemal Ataturk yang memang dikenal sebagai Bapak Sekularisme Turki. Tapi juga sangat identik sebagai sosok yang antiagama.

"Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak menghendaki sekularisme (apalagi ateisme) tapi juga tidak menghendaki agama apapun untuk dijadikan sebagai dasar bernegara. Artinya Kemal Ataturk adalah sosok yang tidak dikehendaki oleh Indonesia yang memahami agama sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara," jelas Shamsi Ali.

Untuk itu menurut pria yang telah hidup di Kota New York selama kurang lebih 24 tahun tersebut menyarankan jika ada nama lain agar bisa dikomunikasikan dan sesuai dengan nilai-nilai yang diterapkan di Indonesia.

"Atau ada nama lain dari pihak Turki yang sejalan dengan nilai dan filsafat hidup bangsa Indonesia yang religius," katanya.

Majelis Ulama Indonesia dan Partai Keadilan Sejahtera tercatat paling keras menolak nama Ataturk untuk nama jalan di Jakarta. Wakil Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas dan Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DKI Jakarta Khoirudin menilai Ataturk sebagai orang yang menjauhkan warganya dari ajaran Islam dan merugikan umat islam. Beberapa diantaranya adalah mengubah Hagia Sophia menjadi Museum, menterjemahkan Al-Quran dan azan ke dalam bahasa Turki, dan melarang penggunaan jilbab di sekolah."Kalau dilihat dari fatwa MUI, Ataturk adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan," kata Anwar.

Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan pemberian nama jalan dengan tokoh Turki merupakan bentuk kerjasama kedua negara.

Rencananya salah satu jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat akan diganti dengan nama tokoh Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

"Penamaan jalan itu kan bagian kerja sama antar negara antara pemerintah jadi itu kerjasama antara Indonesia dan pemerintah Turki. Kita juga saling membantu, saling menghormati," kata Riza.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Selain MUI dan PKS, Tokoh Muslim New York Kecam Rencana Penamaan Jalan di Jakarta dengan Ataturk

Terkini

Topik Populer

Iklan